Home / Kepri / Batam / Ketua DPD AJOI Kepri, Tampik Tudingan Miring Riza Di Laman Facebook-nya

Ketua DPD AJOI Kepri, Tampik Tudingan Miring Riza Di Laman Facebook-nya

 

Ketua DPD AJOI Kepri, Jonni Pakkun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tanjungpinang – kompaslima.com : Tudingan miring dalam mendirikan media online cuma Rp. 100. 000,-, pada cuitan dalam halaman Facebook Riza Fahlevi. Seorang oknum jurnalis yang bekerja di salah satu media besar di Batam, sudah membangun opini yang salah terhadap media Daring.

Aliansi Jurnalistik Online Indonesia (AJOI) Kepri, langsung menampik. Jika tuduhan yang di maksud tidak benar dan buta dalam memberikan opini terhadap publik, terlepas oknum wartawan tersebut yang memberikan statement sudah meminta maaf.

Apalagi, Oknum tersebut memberikan opini dengan mengatakan sangat gampang membuat media daring dan hanya bermodalkan Rp. 100, 000,-.

Sebelumnya, Oknum jurnalis bernama Riza Fahlevi. Dalam laman Facebook-nya berjudul “Insinuasi, Fitnah di Balik Tanda Tanya”.

“Warga Batam harus cerdas memilih media, khususnya media online. Mengingat, saat ini sangat gampang membuat media daring ini. Hanya modal Rp. 100. 000, sudah jadi. Anda bisa jadi wartawan, redaktur, pemimpin redaksi bahkan general manajer. Lalu bagaimana kualitas beritanya? Ini yang jadi masalah”. Tulis Riza.

Selain itu, dalam percakapan yang sudah di screenshoot. Melalui laman facebook pribadi, Riza juga menyampaikan bentuk ancaman. Akan menyebar artikel unggahannya, kesekolah-sekolah bahkan sampai ke pulau terluar.

“Untuk media online yang brengsek, Saya akan sosialisasikan tulisan Saya ini kemana-mana dan Saya akan lawan kalian”. Lanjutnya, menanggapi perbincangan rekannya dilaman facebook tersebut.

Menurutnya, mudahnya membikin media online. Serta untuk memenuhi kuota berita, media daring bisa menjadi media curator, dengan membuat salinan berita sesuai dengan kehendak.

Terkait hal ini, ketua  Aliansi Jurnalistik Online Indonesia (AJOI) DPD Kepri. Jonni Pakkun, mengatakan. Untuk membuat media online, tidaklah semudah yang disampaikan oknum jurnalis tersebut.

Selain tidak mudah, dalam pembuatannya juga mengeluarkan biaya besar. Terutama, bagi media yang tergabung dalam AJO Indonesia. Kamis (7/3) di Batam center.

“Sekitar 160 media, tergabung dalam organisasinya legalitasnya sudah jelas. Bahkan sebagian besar telah terverifikasi di dewan pers”.

Intinya, jika membuat opini jangan tendensiuslah. Sehingga berpotensi membuat konflik, apalagi memposting di facebook. Ini jeruk makan jeruk namanya. Tegasnya.

Senada dengan ketua DPD AJOI Kepri, Pimred Batam Times. Co. Budi Karya. Mengatan, seharusnya. Riza sebagai wartawan senior, tidak membuat opini apapun tentang media daring. Apalagi mengatakan melalui opininya, bermodalkan Rp. 100.000,-.

“Rp. 100.000,- baru domain, belum lagi jenis Web. Jika pesan Web pro, harganya bisa jutaan. Ini belum lagi untuk buat akte perusahaan, serta izin usaha lainnya dan terakhir persyaratan verifikasi dewan pers”.

Jika tidak mengetahui detail pembuatan perusahaan media online, jangan pernah memberikan opini yang tidak jelas. Tegasnya.

Sekali lagi, apapun itu namanya. Jangan pernah mengatakan, media online itu mudah. Apalagi ia seorang jurnalis-nya, dan kabarnya pelatih di bidang Jurnalistik, dan berharap peristiwa ini tidak terulang kembali.

 

Ini adalah kutipan tulisan di laman Facebook-nya  tersebut.

Insinuasi, Fitnah di Balik Tanda Tanya

Oleh: Muhammad Riza Fahlevi

Warga Batam harus cerdas memilih media, khususnya media online, mengingat saat ini sangat gampang membuat media daring ini. Hanya modal Rp100 ribu, sudah jadi. Anda bisa jadi wartawan, redaktur, pemimpin redaksi bahkan general manajer. Lalu bagaimana kualitas beritanya? Ini yang jadi masalah.

Bukan rahasia lagi, menjamurnya media online ini, karena dirasa bisa mendapat duit dengan mudah. Misal berebut adsense dari Google.

AdSense adalah program kerjasama periklanan melalui media Internet yang diselenggarakan oleh Google. Pemilik situs web atau blog akan mendapatkan pemasukan berupa pembagian keuntungan dari Google untuk setiap iklan yang diklik oleh pengunjung situs, yang dikenal sebagai sistem pay per click atau bayar per klik.

Karena itu banyak media online yang berlomba menarik klik atau istilahnya klikbait dari pengunjung. Caranya dengan berlomba mengemas berita jadi klikable. Bisa melalui judul yang bikin penasaran dan sebagainya.

Karena dituntut harus memenuhi kuota berita, maka adakalanya media daring ini menjadi media kurator. Berita comot sana sini, lalu diframing lagi kembali sesuai keinginannya.

Apapun ini masih dirasa sesuai jalur. Namun yang disayangkan, fenomena menjamurnya media online ini banyak yang dipakai untuk memeras.

Modusnya: mereka mendatangi pejabat atau pengusaha agar pasang iklan untuk membiayai operasionalnya. Bila menolak, sengaja dicari cari kesalahannya, lalu dimuat di media tersebut dengan framing negatif.

Orang salah itu wajar, yang gak wajar adalah yang suka cari-cari kesalahan. Sebab, sudah busuk sejak dalam pikiran.

Namanya juga mencari cari kesalahan, jangan harap beritanya jernih. Ciri berita semacam ini gampang dikenali. Biasanya isinya tak jauh dari
mengarang bebas dan tendensi negatif. Lagaknya banyak mengumbar kalimat tanya.

Namun bila jeli, sebenarnya itu bukan pertanyaan tapi penghinaan dan fitnah yang dirumuskan dalam bentuk tanya.

Kalau pinjam istilah Profesor Mahfud MD, pertanyaan tersebut sama dengan kalimat, “Apa benar kamu berzina dgn ibumu? Kalau benar, apa alasannya?” Inilah yang disebut insinuasi.

Sebenarnya kalau mau, bisa saja awak media tadi dituntut di depan hukum. Karena selain sudah melenceng dari kaidah jurnalistik, juga sudah mengandung delik pidana.

Bagaimana berita insinuasi itu? Semoga contoh berikut ini bisa memberi gambaran. Misalnya ada berita begini:

Sejumlah kalangan tetap juga mempertanyakan pertemuan tersebut. Salah seorang pengusaha Batam, yang namanya enggan ditulis, mempertanyakan kehadiran seorang tokoh.

Menurut pengusaha tersebut, pertanyaan itu muncul setelah melihat foto pasca pertemuan. Bahkan ia juga menduga pertemuan itu didasari kepentingan politik dalam pengelolaan megaproyek. “Saya rasa pertemuan semalam pasti ada membahas tentang proyek,” ujarnya singkat.

Cara cara mengemas berita aemacam ini bukan saja jahat, namun bisa menurunkan kepercayaan masyarakat pada media daring. Sehingga jangan heran, survei terbaru, surat kabar tetap menjadi pilihan utama masyarakat dalam mencari kebenaran sebuah berita.

Semoga tulisan ini bisa menggugah kesadaran masyarakat untuk bisa membedakan mana media hoax dan fitnah, serta mana media yang benar benar memberitakan kebenaran.

Saran saya, tinggalkan media daring yang kualitasnya semacam itu. Merusak.

(muhammad riza fahlevi)

(gad)

About kompaslima

Check Also

Keluarga Besar NU Serta LAM Kota Tanjungpinang Deklarasi, Menolak People Power

Tanjungpinang – kompaslima.com : Keluarga Besar NU kota Tanjungpinang, menolak gerakan people power. Dengan mendeklarasikan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *